karena susahnya mendapatkan beras ( mahal ) atau beras yang sudah tidak layak konsumsi karena beras gudang bulog yg kombinasinya 70% : 30% ( Kutu : Beras ), maka tiwulpun menjadi makanan favorit disebagian wilayah seperti Wonogiri, Pacitan dan Gunungkidul.Tiwul terbuat dari tepung gaplek alias tepung singkong (casava flour bukan tapioka alias casava starch).
Cara membuat tepung tersebut adalah :
1. kupas dan cuci singkong hingga bersih.
2. Iris tipis lalu keringkan di bawah sinar matahari selama kurang lebih 2-3 hari. Singkong yang sudah kering ini di sebut gaplek. Haluskan gaplek dengan cara di tumbuk atau mempergunakan grinder lalu ayak agar mendapatkan tepung yang halus. Dari hasil riset, dari sekitar 500 gram singkong segar dapat menghasilkan 200 gram tepung gaplek.
200 gr tepung gaplek
air secukupnya
garam secukupnya
2 lbr daun pandan
150 gr gula merah, iris halus
50 gr gula pasir
1. Campur tepung gaplek dengan garam, bisa juga ditambahkan gula merah dan gula manis (kalau mau langsung manis ya...) Perciki dengan air hingga lembab (seperti butiran roti)
2. Letakkan dalam wadah tahan panas, beri daun pandan yang sudah di potong2.
3. Kukus hingga matang (20-30 menit).
4. Sajikan dengan lauk pauk atau parutan kelapa dan gula jawa (kalau yang belum pakai gula merah tadi ketika di langkah pertama)

cara penyajiannya pun amat sangat sederhana cukup sepiring tiwul hangat, sayur daun singkong dan sambel dan disajikan sianghari, itu sudah merupakan kombinasi yg amat sangat memuaskan rasa keroncongan perut, selesai makan maka menu penutupnya adalah gathot, panganan yg juga berbahan dasar singkong yg sudah di jemur atau lebih tepatnya dibiarkan diudara bebas berhari-hari sehingga mempunyai warna khas hitam, direbus lalu dikasih parutan kelapa
Tiwul memiliki rasa yang khas. Rasa tiwul kualitas baik agak manis akibat sebagian karbohidrat dalam pati singkong terfermentasi menjadi gula pada proses pembuatan gaplek maupun penepungan. Cara mengkonsumsi tiwul ada dua macam. Sebagai “snack” tiwul dimakan dengan kelapa parut. Bisa diberi gula (pasir atau merah), bisa juga diberi garam. Namun sebagai makanan pokok pengganti nasi, tiwul dikonsumsi dengan sayuran dan lauk-pauk misalnya dengan ikan asin, sambel terasi atau sayur pedas yang terbuat dari santan, cabe dirajang serta dicampur tempe.
Gatot adalah makanan yang terbuat dari gaplek (ketela/singkong yang dikeringkan) sama dengan tiwul. Ketela yang telah dikupas kemudian dijemur untuk dikeringkan sehingga menjadi gaplek. Namun untuk membuat gatot berkualitas, bukan sembarang gaplek yang dipakai. Para pedagang gatot yang biasanya merangkap sebagai pembuat (produsen) menggunakan gaplek yang (sengaja) dihujan-hujankan. Tujuannya untuk mendapatkan warna hitam khas gatot. Cara pembuatan gatot sangat sederhana. Gatot yang sudah kering direndam selama 12 jam (semalam). Setelah dicuci bersih, gaplek dipotong kecil-kecil sesuai ukuran gatot, kemudian ditanak/dikukus selama sekitar 2 jam. Setelah masak, gatot ditempatkan di suatu wadah yang lebar biar cepat dingin. Untuk menghidangkan, gatot ditaburi dengan parutan kelapa ditambah sedikit gula dan garam. Perpaduan rasa kenyal gatot bercampur sedikit manis dan asin menambah eksotisme rasa makanan khas Gunungkidul ini.

0 komentar:
Posting Komentar